Pangkalpinang – Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Kepemudaan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama alumni Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) membahas penguatan program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) Daerah Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2027. Pertemuan tersebut juga membahas persiapan seleksi, pelaksanaan program serta pengembangan post program activity (PPA) sebagai tindak lanjut kontribusi alumni setelah mengikuti program pertukaran pemuda.

 

Kabid Kepemudaan dan Kepramukaan Disparbudkepora Babel, Fitriyanto, mengatakan pembahasan tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan Rembug Pemuda dan program Wirasena. Dalam program Wirasena terdapat sejumlah kegiatan pengembangan kapasitas pemuda, di antaranya youth camp, magang, debat publik serta pertukaran pemuda antarnegara.

 

“Pengembangan pemuda tidak hanya berhenti pada proses seleksi dan keberangkatan peserta. Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman dan jejaring yang diperoleh selama program dapat memberikan dampak bagi pemuda dan daerah,” ujar Fitriyanto.

 

Dalam pembahasan, alumni PPAN menyampaikan bahwa kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu aspek penting yang perlu dipersiapkan sejak awal. Oleh karena itu, diperlukan dukungan pelatihan bahasa Inggris dari Disparbudkepora, termasuk membangun jejaring dengan lembaga bahasa yang mampu memberikan sertifikasi TOEFL, IELTS atau IBT yang dipersyaratkan dalam seleksi.

 

Alumni PCMI juga memberikan masukan terkait proses pra-seleksi, seleksi tingkat nasional hingga tahapan pascaprogram. Salah satu perhatian adalah persyaratan usia yang dinilai cukup membatasi kesempatan pemuda di daerah. Mereka berharap terdapat ruang kebijakan yang memungkinkan rentang usia lebih luas namun tetap berada dalam kategori pemuda.

 

Selain itu, pemerataan kesempatan bagi pemuda dari seluruh kabupaten/kota menjadi perhatian. Jumlah peserta dari Pangkalpinang dinilai relatif lebih banyak karena memiliki koordinasi yang baik dengan perguruan tinggi. Sementara itu, Belitung Timur dan Bangka Barat dinilai masih membutuhkan penguatan regenerasi peserta.

 

Fitriyanto menegaskan perlunya sosialisasi PPAN yang lebih masif agar masyarakat mengetahui manfaat program tersebut. 

 

“Kita perlu melakukan sosialisasi yang lebih baik agar Bangka Belitung memiliki pemuda-pemuda berkualitas, khususnya dalam kemampuan bahasa Inggris yang tersertifikasi. Networking juga sangat penting karena dapat mendukung perkembangan diri sekaligus membuka peluang bagi kemajuan daerah,” katanya.

 

Pertemuan tersebut turut membahas PPA PPAN yang akan dilaksanakan di Belitung dengan peserta sekitar 100 orang. Dua program yang direncanakan yakni penguatan kapasitas remaja Belitung melalui edukasi gizi berbasis pangan lokal dan literasi global dalam mendukung destinasi wisata internasional.

 

Melalui penguatan pra-program, seleksi, pelaksanaan hingga pascaprogram, PPAN diharapkan mampu membentuk pemuda Babel yang berwawasan global, memiliki kemampuan komunikasi internasional, jejaring luas serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.