Pangkalpinang – Kadisparbudkepora, Widya Kemala Sari, secara resmi membuka acara Youth Camp Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) yang berlangsung di Pangkalpinang, Selasa (8/7). Mengangkat tema “Get Closer”, kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai daerah, termasuk Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, serta OKI-OKU.
Dalam sambutannya, Kadisparbudkepora menyampaikan apresiasi tinggi kepada panitia pelaksana yang telah mempersiapkan kegiatan ini dengan semangat dan dedikasi tinggi. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menciptakan perubahan positif, baik di lingkungan gereja maupun masyarakat luas.
“Hadirnya DKMD ini menjadi langkah strategis dalam memfasilitasi dan memberdayakan pemuda Sumbagsel. Melalui Youth Camp ini, kita berharap muncul bibit unggul yang siap melayani dan membawa nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat,” ujar Widya.
Selama dua hari pelaksanaan, para peserta akan mengikuti rangkaian kegiatan seperti seminar, diskusi, dan sesi inspiratif bersama para narasumber, di antaranya Pdt. Jonner Sirait dari DKMN Jakarta dan Pdt. Frans Kansil dari Kaltara.
Widya juga mengajak seluruh peserta untuk membuka hati dan pikiran agar pengalaman dalam kegiatan ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menutup sambutan dengan pesan kebersamaan dan harapan agar acara ini menjadi berkah bagi seluruh peserta dan masyarakat sekitar.
“Dengan semangat persatuan, kita mampu mencapai tujuan besar dalam pelayanan,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, ketua DKMD GSJA Sumbagsel, Pdt Agustiawan Silaban menyampaikan pandangannya terkait tantangan para pemuda di jaman sekarang ini. Dirinya mengatakan bahwa gawai menjadi tantangan para pemuda di era digital saat ini. Yang mana fungsi gawai dapat ibarat pisau, yaitu tergantung dari niat pelakunya.
“Gadget itu tidak salah, namun ketika dipegang dengan niat yang salah maka gadget itu seperti pisau. Kalau dipegang oleh orang yang memiliki niat jahat, pasti akan digunakan untuk kejahatan. Tapi kalau dipakai oleh niat yang baik, maka tujuannya pun baik,” ujar Agustiawan.
Tidak hanya itu, tantangan lainnya menurut Agustiawan adalah, dengan gawai dapat mendekatkan yang jauh, namun juga bisa menjauhkan yang dekat, sehingga seperti membuat orang menjadi tidak saling kenal-mengenal.
“Masukan dari saya adalah, dengan tantangan zaman ini beri mereka batasan-batasan waktu dalam menggunakan gadget. Pola mengasuh anak zaman dulu dengan zaman sekarang tentu jauh berbeda, namun esensi dan value dalam mendidik tidak boleh berubah, salah satunya adalah nilai moral dalam keluarga dan juga disiplin,”kata Agustiawan.
Lebih jauh, fenomena Fatherless juga menjadi perhatian Pdt Agustiawan Silaban. Di mana fatherless merupakan istilah yang mengacu kepada kondisi seorang anak tumbuh tanpa kehadiran sosok seorang ayah, baik secara fisik maupun psikologis.
“Tantangan lainnya adalah mengenai kekurangan kasih bapak , yaitu bapak yang ada di rumah seolah-olah tidak menjadi figur bapak. Yaitu hanya sekedar menghasilkan uang untuk keluarga tanpa adanya peran dan komunikasi yang baik bersama keluarga,” lanjutnya.
Oleh karena itu Agus mengimbau kepada para keluarga agar memperhatikan anak-anak mereka, mengingat anak adalah karunia Tuhan yang dititipkan untuk dididik agar kelak menjadi anak teladan, panutan, dan berkat bagi lingkungan sekitarnya.