PANGKALPINANG-Disela-sela kesibukannya sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Kepemudaan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Suharto didampingi Kapolres Bangka, AKBP Widi Haryawan dan Wakil Ketua DPRD Bangka, Mendra beserta rombongan komunitas Jeep mengadakan tour wisata dipusatkan dipesisir pantai Kabupaten Bangka, Minggu (20/6/2021).
Ada hal menarik dalam perjalanan itu, Kadisparbudkepora Suharto bersama rombongan menemukan sebuah objek wisata pantai yang baru saja selesai dikelola.
‘’Kami menelusuri daerah pesisir yang tidak bisa dilalui kendaraan biasa, ada sebuah pantai yang kami singgahi yaitu pantai cemara. Pantai ini sangat menarik dimana pengelolaannya sangat bagus sekali.’’ Ujar Suharto yang juga merupakan pendiri komunitas Jeep Babel.
Salah satu peneglolaan wisata pantai cemara yang menjadi perhatian Kadisparbudkepora itu adalah, konsep yang dibuat bukan hanya memelihara alam pantai saja namun alam bekas galian tambang timah dapat ditata sedemikian rupa menjadi sebuah objek wisata yang bisa mendatangkan wisatawan.
‘’Penataannya sangat menarik sekali, mereka mengelola alam ini menjadi outbond, kemudian hutan manggrove disekitarnya sangat terjaga, kemitraan dengan masyrakat sangat dekat sekali dengan menyediakan lahan 3 hektar masyarakat bisa memelihara bebek, ikan dan kepiting. Konsep ini sangat dinikmati masyarakat dengan sumberdaya alam yang ada.’’ Katanya.
Dikatakan Suharto, kemitraan seperti ini yang harus diedukasi kepada pengelola yang ingin mengembangkan wisata yang ada di Babel, sekarang pariwisata sudah banyak dilirik para pengusaha yang mengelola alam yang rusak ditata ulang menjadi wisata yang menarik.
‘’Saya merasa bangga dengan pihak ketiga yang mengelola dengan modal dan berjuang sendiri, namun semua itu untuk masyarakat disekitar, kedepan bisa saja menjadi desa wisata.’’ Imbuhnya.
"Konsep pengembangan wisata harus dihidupkan lagi, pertumbuhan pariwisata pada titik sentral yang kami lalui hampir semua dikunjungi masyarakat, semoga ini bisa menjadi sentral destinasi wisata namun jangan sampai dirusak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab." imbuhnya lagi.
Diakhir perjalanan menjelajahi tempat wisata, Kadisparbudkepora Suharto sedikit kecewa dengan melihat adanya pesisir pantai yang dipenuhi dengan tambak udang.
‘’Saya sangat sedih melihat ini, bagaimana konsep yang dikembangkan pemerintah sekarang bisa berjalan kalau semua alam untuk pengembangan wisata dirubah menjadi tambak udang, saya sebagai Kadisparbudkepora bagaimana mau mengembangkan dan menjual wisata Babel kalau semua ini sudah dialih fungsikan, namun semua ini bukan urusan saya, harusnya pihak-pihak terkait ikut turun kelapangan untuk melihat semua ini.’’ pungkasnya.
Sementara itu pengelola pantai cemara, Fuad menjelaskan lahan seluas 26 hektar yang ia siapkan merupakan awalnya tanah keluarga, namun keberadaan lahan di zona hutan pihaknya telah mendapat izin pengelolaahan dari pemerintaha daerah untuk mengembangkannya menjadi objek wisata.
‘’Kami mengembangkan objek wisata ini tidak memprioritaskan dulu pantainya namun kami mengembangkan didaerah sekitarnya seperti pembangunan outbond, are makan untuk pengunjung, coolstage dan betpark, nanti kita usahakan menjadi satu kesatuan yang lengkap.’’ kata Fuad.
Lanjut Fuad, dirinya sebagai pelaku pengembang wisata Babel mengatakan dukungan dari pemerintah daerah belum begitu aktif cenderung pasif. ‘’Saya berharap pemerintah pro aktif, kami sangat butuh dukungan sepenuhnya.’’ ungkapnya. (rz)

