Pangkalpinang – Optimisme terhadap masa depan pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengemuka dalam podcast bertema “Masa Depan Pariwisata Babel” yang digelar di Pangkalpinang, Rabu (10/6/2026). Diskusi tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan sektor pariwisata dan perhotelan untuk membahas peluang, tantangan, serta arah pengembangan pariwisata Babel dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

 

Mewakili Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda, Anugrah Gusta Prima, hadir sebagai narasumber bersama General Manager Tanjung Pesona Beach Resort Then Yohanes, Sekretaris PHRI Bangka Belitung Wendo Irwanto, General Manager Bangka City Hotel Sumiati, General Manager Hotel Santika Bangka Krisna, dan General Manager Swiss-Bel Hotel Pangkalpinang Dewi Noviarini. Acara dipandu oleh host Edy Yusmanto.

 

Dalam kesempatan tersebut, Anugrah menjelaskan bahwa perkembangan pariwisata Babel mengalami titik balik penting sejak booming-nya film Laskar Pelangi pada tahun 2008 yang berhasil memperkenalkan Bangka Belitung ke tingkat nasional. Momentum tersebut kemudian diperkuat melalui program Visit Babel Archipelago pada tahun 2011 yang semakin meningkatkan popularitas daerah sebagai destinasi wisata.

 

“Film Laskar Pelangi membangkitkan rasa ingin tahu masyarakat Indonesia untuk mengenal Bangka dan Belitung. Sejak saat itu perkembangan sektor pariwisata tumbuh cukup pesat,” ujarnya.

 

Menurut Anugrah, Babel memiliki modal besar berupa keindahan pantai, kekayaan budaya, kuliner khas, wisata sejarah, geopark, hingga potensi sport tourism. Selain itu, pertumbuhan jumlah hotel dan fasilitas penunjang pariwisata juga terus meningkat dari tahun ke tahun.

 

Ia menyebutkan, pada tahun 2025 jumlah wisatawan yang berkunjung ke Babel mencapai sekitar 600 ribu orang. Dengan asumsi rata-rata pengeluaran wisatawan sebesar Rp3 juta hingga Rp4 juta per kunjungan, perputaran ekonomi yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar Rp2,4 triliun.

 

“Dampaknya memang tidak selalu dirasakan secara langsung, tetapi memberikan multiplier effect yang besar. Wisatawan membutuhkan akomodasi, kuliner, transportasi, hingga oleh-oleh yang pada akhirnya menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.

 

Anugrah juga menyoroti pentingnya konektivitas sebagai faktor utama pengembangan pariwisata daerah kepulauan. Rencana pembukaan rute penerbangan Belitung–Singapura oleh Scoot serta kembali beroperasinya rute Bangka–Batam oleh Wings Air diharapkan dapat memperluas aksesibilitas dan meningkatkan kunjungan wisatawan.

 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Pulau Bangka selama ini dikenal sebagai destinasi berbasis MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dan perjalanan bisnis. Ke depan, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendorong transformasi menuju pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan dengan meningkatkan kunjungan wisatawan yang memiliki tingkat belanja lebih tinggi.

 

Berdasarkan data sementara tahun 2026, tren kunjungan wisatawan menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga April 2026, jumlah kunjungan wisatawan tercatat meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kunjungan wisatawan mancanegara juga mencapai sekitar 2.000 orang.

 

Sementara itu, General Manager Tanjung Pesona Beach Resort Then Yohanes menilai bahwa saat ini merupakan momentum yang tepat bagi seluruh pelaku industri pariwisata untuk memperkuat kolaborasi. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjadikan Babel sebagai destinasi wisata unggulan.

 

Pandangan serupa disampaikan General Manager Bangka City Hotel Sumiati yang menekankan pentingnya diversifikasi pasar agar sektor perhotelan tidak hanya bergantung pada kegiatan MICE. Ia berharap pengalaman wisata yang berkesan dapat mendorong wisatawan untuk kembali berkunjung ke Babel.

 

Di sisi lain, General Manager Swiss-Bel Hotel Pangkalpinang Dewi Noviarini mengungkapkan kekagumannya terhadap keindahan pantai dan kekayaan kuliner Bangka. Menurutnya, kuliner daerah memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik utama yang mampu memperkuat citra pariwisata Babel di tingkat nasional maupun internasional.

 

Melalui diskusi tersebut, para narasumber sepakat bahwa dengan penguatan konektivitas, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, serta pengembangan potensi wisata dan ekonomi kreatif, Bangka Belitung memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai destinasi pariwisata yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan di masa depan.