Pangkalpinang-Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menerima kunjungan budaya dari tim peneliti Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung bertempat Ruang Kerja Kepala Dinas (Kadis) Parbudkepora, Selasa (01/07/2025).
Kunjungan ini merupakan bagian dari pelaksanaan riset hibah Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2025 yang bertujuan untuk mendata dan menggali potensi kebudayaan, khususnya pencak silat tradisi sebagai aset pariwisata di wilayah Babel.
Ketua tim peneliti dari ISBI Bandung, Prof. Dr. Sri Rustiyanti beserta rombongan menjelaskan bahwa fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi keberadaan dan karakteristik pencak silat tradisi yang masih lestari di kampung-kampung adat Babel, seperti Desa Wisata dan Kampung Adat Gebong Memarong Dusun Aik Abik, Desa Gunung Muda Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.
"Kami ingin melihat langsung bagaimana pencak silat ini tidak hanya sebagai seni bela diri, tetapi juga sebagai bagian integral dari budaya masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata," ujar Sri Rustiyanti.
Dalam kunjungan kali ini tim ISBI Bandung juga berkoordinasi dengan pihak Disparbudkepora melalui bidang Kebudayaan dan Sanggar Buluh Perindu guna memperoleh data awal terkait sebaran komunitas pencak silat tradisional, maestro, serta potensi ritual atau pertunjukan yang masih ada di wilayah Babel. Data ini akan menjadi dasar bagi penelitian lapangan lebih lanjut di berbagai kampung adat.
Kadis Parbudkepora Babel Wydia Kemala Sari didampingi Subkor Budaya dan Kesenian Tradisional Pupung Damayanti menyambut baik inisiatif riset ini, menurtnya Ketangguhan mental sangat penting bagi seorang atlet pencak silat, meskipun dalam berlatih atau pun bertanding mengalami cedera tidak menimbulkan trauma bagi seorang atlet.
“Mental juara menjadi hal yang sangat penting dimiliki oleh seorang atlet pencak silat. Kami sangat mengapresiasi upaya ISBI Bandung dalam mengangkat kebudayaan lokal kami. Pencak silat tradisi memiliki nilai historis dan seni yang tinggi, dan kami optimis dapat menjadikannya salah satu ikon pariwisata budaya Babel." tuturnya.
Ia berharap hasil penelitian ini dapat memberikan rekomendasi konkret untuk pengembangan pariwisata berbasis budaya. Pencak silat tidak hanya sebagai atletik tetapi secara etik dan estetik dapat dikembangkan menjadi seni kemas wisata yang menarik wisatawan.
“Saya berharap penelitian hibah Kemdikbudsaintek 2025 ini dapat menghasilkan peta potensi pencak silat tradisi di Babel, dokumentasi komprehensif, serta strategi pengembangan yang berkelanjutan untuk menjadikan warisan budaya ini sebagai salah satu daya tarik utama pariwisata daerah serta dapat berkontribusi pada upaya pelestarian pencak silat sebagai warisan budaya tak benda.” tutup Wydia.