Balunijuk — Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi krisis iklim melalui kegiatan “Suara Muda Serumpun Sebalai: Wujudkan Keadilan Iklim Inklusif di Bangka Belitung” yang digelar di Balun Kopi, Sabtu (20/12/2025).

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Bidang Kepemudaan dan Kepramukaan Disparbudkepora Pemprov Babel yang diwakili oleh Humas Ahli Muda Disparbudkepora, Khalimo Tabarani Eddy. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Bangka Belitung sebagai wilayah kepulauan memiliki kekayaan alam yang besar, namun juga menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

“Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan sosial, ekonomi, dan masa depan generasi muda. Dampaknya pun tidak dirasakan secara adil oleh semua kelompok, sehingga keadilan iklim menjadi isu penting untuk kita perjuangkan bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa anak muda bukan hanya pewaris masa depan, melainkan aktor perubahan masa kini. Oleh karena itu, suara pemuda yang inklusif—melibatkan perempuan, kelompok rentan, masyarakat adat, serta komunitas pesisir—harus menjadi bagian utama dalam perumusan solusi iklim yang adil dan berkelanjutan.

Kegiatan Suara Muda Serumpun Sebalai diharapkan menjadi ruang dialog dan kolaborasi lintas sektor, tempat bertemunya ide-ide segar serta tumbuhnya kepedulian dan aksi nyata untuk menjaga lingkungan Bangka Belitung.

Sementara itu, Imam Wijaya, selaku Pembina Yo Kawa Babel, dalam wawancara singkat menyampaikan bahwa gerakan anak muda dalam merespons perubahan iklim merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Namun, ia menilai keterlibatan pemuda selama ini belum sepenuhnya setara.

“Dengan judul inklusif, maksudnya pemuda belum diikutsertakan secara utuh, karena jam terbang mereka masih dianggap lebih rendah dibandingkan kelompok lainnya,” jelas Imam.

Ia berharap pemuda dapat dilibatkan secara sejajar dan setara, baik lintas kelompok usia maupun gender. Dalam kegiatan ini, sekitar 11 sekolah turut diundang, bersama sejumlah LSM dan NGO lokal seperti ALOBI dan Tanggokers (Pusat Riset dan Edukasi ikan Lokal, Lokality dan Endemik Air Tawar Pulau Bangka)

“Harapannya, malam ini semua golongan pemuda, pelajar, LSM, dan OPDdapat menyaksikan dan mendorong tindak nyata anak muda Bangka Belitung dalam ikut andil membantu menghadapi perubahan iklim,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, suara dan aksi nyata pemuda diharapkan mampu menjadi motor penggerak terwujudnya keadilan iklim yang inklusif dan berkelanjutan di Bangka Belitung.