BELITUNG — Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, masyarakat Dusun Ulim, Desa Lassar, Kecamatan Membalong, Pulau Belitung, masih setia menjaga satu tradisi yang diwariskan turun-temurun, namanya Maras Taun.
Bagi masyarakat Belitung, tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang spiritual dan sosial yang mengikat hubungan manusia dengan alam, leluhur dan Sang Pencipta.
Maras Taun merupakan ritual ungkapan syukur atas hasil panen padi, yang selama generasi menjadi sumber penghidupan masyarakat. Tradisi ini memadukan unsur adat, religi, seni, serta nilai gotong royong yang masih terpelihara hingga hari ini.
Perayaan Maras Taun tahun ini, digelar pada Minggu (5/4/2026), yang dipusatkan di kediaman Ketua Forum Kedukunan Adat se-Belitung (FKAB), Mukti Maharip.
Ratusan warga, tokoh adat, pelaku seni, serta pejabat daerah, hadir mengenakan pakaian adat Melayu Belitung, menciptakan suasana sakral sekaligus penuh kebersamaan.
Kehadiran Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Hidayat Arsani turut menambah makna perhelatan budaya tersebut. Sang Gubernur hadir bersama sejumlah kepala daerah, untuk menyaksikan langsung tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat.
- Pantun Berebut Lawang, Tradisi Lisan Pembuka Adat
Rangkaian prosesi, diawali dengan pantun berebut lawang, tradisi berbalas pantun yang menjadi simbol pembuka pintu kehormatan bagi tamu yang hadir.
Tradisi lisan ini, bukan sekadar hiburan, tetapi sarat filosofi. Pantun-pantun yang dilantunkan secara bersahutan, menjadi simbol penghormatan, sekaligus media komunikasi adat yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.
Awalnya, tradisi berbalas pantun ini merupakan bagian dari prosesi pernikahan adat Belitung. Namun, para tetua adat kemudian memasukkannya dalam rangkaian Maras Taun, sebagai bentuk pelestarian budaya lokal.
Lantunan hadrah yang mengiringi prosesi, semakin memperkuat nuansa seni dan spiritual dalam perayaan tersebut.
- Tumbuk Lesung, Simbol Harmoni Manusia dan Alam
Salah satu prosesi yang menarik perhatian dalam perayaan ini adalah ritual tumbuk lesung, yakni kegiatan menumbuk padi secara bersama-sama menggunakan lesung dan alu kayu secara berirama.
Ritual ini, bukan sekadar aktivitas simbolik, melainkan memiliki makna filosofis mendalam tentang rasa syukur atas panen, penghormatan terhadap warisan leluhur, serta pentingnya kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.
Irama tumbukan lesung yang dilakukan secara bersama-sama melambangkan nilai gotong royong. Tidak ada individu yang bekerja sendiri, semuanya bergerak dalam harmoni yang sama.
Bagi masyarakat Desa Lassar, mempertahankan tradisi menumbuk padi secara manual di tengah kemajuan teknologi, juga menjadi simbol komitmen menjaga identitas budaya.
Lebih dari itu, tumbuk lesung dimaknai sebagai refleksi hubungan manusia dengan alam. Bahwa hasil panen bukan semata hasil kerja manusia, tetapi juga bagian dari keseimbangan alam yang harus dijaga.
- Warisan Budaya yang Mendunia
Maras Taun telah lama menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Belitung. Tradisi ini bahkan diakui sebagai bagian dari kearifan lokal, yang masuk dalam kategori warisan budaya tak benda.
Meski terdapat beberapa penyesuaian dalam pelaksanaannya, seperti tidak lagi dilakukannya prosesi pemotongan lepat gede dalam dua tahun terakhir, esensi tradisi tetap terjaga.
Sebagai simbol syukur, tuan rumah tetap menyajikan hidangan tradisional dalam dulang sebagai bagian dari ritual adat.
- Dukungan Pemerintah untuk Pelestarian Budaya
Ketua FKAB, Mukti Maharip mengatakan, para tokoh adat terus berupaya menjaga kelangsungan tradisi Maras Taun meskipun menghadapi berbagai tantangan zaman.
Menurut dia, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan agar tradisi Maras Taun tetap lestari dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Maras Taun ini adalah adat budaya Belitung yang terus kami jaga. Kami berharap dukungan pemerintah agar tradisi ini tetap terpelihara dan semakin dikenal," ujar Mukti.
Di sisi lain, Gubernur Babel Hidayat Arsani, menilai Maras Taun bukan sekadar ritual adat, tetapi juga refleksi nilai kehidupan masyarakat yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam dan spiritualitas.
"Maras Taun memiliki nilai spiritual sebagai bentuk rasa syukur dan harapan masyarakat kepada Allah SWT. Tradisi ini merupakan cerminan kearifan lokal yang harus terus kita jaga bersama," kata Gubernur Hidayat.
Gubernur Hidayat juga menekankan tentang pentingnya peran tokoh adat dalam menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.
"Saya bangga bisa hadir di tengah masyarakat dan para dukun kampung. Tugas kita bersama menjaga desa agar tetap aman dan harmonis," ujarnya.
Di Belitung, Maras Taun bukan hanya tentang tradisi. Ia adalah identitas, memori kolektif, sekaligus pengingat bahwa kemajuan zaman tidak harus menghapus jejak budaya. Selama masih ada yang merawatnya, denyut tradisi itu akan terus hidup.