BAHASA - ENGLISH

Pangkalpinang — Pengurus Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melanjutkan rangkaian audiensi dengan mengunjungi Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Parbudkepora) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (22/01/2026).

Audiensi ini dilakukan guna menyelaraskan program kerja tahunan FPK dengan program di dinas dan organisasi perangkat daerah (OPD) yang menjadi pembina lembaga tersebut. Sebelumnya, FPK telah melakukan audiensi ke Dinas Pendidikan.

Rombongan FPK yang diketuai Jayadi, didampingi Sekretaris Aswandi, tiga wakil ketua, serta para kepala bidang, diterima langsung oleh Kepala Dinas Parbudkepora Babel, Widya Kemala Sari. Turut mendampingi Widya, Sekretaris Dinas Ade Irma Setianingsih, Kabid Kebudayaan Martini, Kabid Destinasi Wisata Irwanto, serta sejumlah staf, di ruang rapat Dinas Parbudkepora.

Setelah sesi perkenalan, pertemuan dilanjutkan dengan diskusi yang berlangsung hangat dan produktif. Berbagai ide kreatif mengemuka, terutama terkait penyelarasan program FPK dengan pengembangan pariwisata dan penampilan kebudayaan daerah di luar Bangka Belitung.

Widya Kemala Sari menegaskan bahwa pariwisata sangat bergantung pada kekuatan budaya.

“Pariwisata bergantung kepada budaya. Wisatawan akan merasa lebih puas dengan melihat atraksi budaya sambil menikmati keindahan alam,” ujarnya.

Salah satu gagasan utama yang muncul adalah perlunya satu kawasan khusus yang representatif sebagai lokasi atraksi kebudayaan dan kesenian daerah. Di kawasan tersebut juga direncanakan berdiri warung-warung dengan ciri bangunan rumah adat dari berbagai daerah.

Replianto menjelaskan konsep tersebut, yakni bagian dalam bangunan dibuat seragam, namun bagian luar atau pintu masuk menampilkan bentuk rumah adat daerah asal kuliner yang dijual.

“Misalnya pintu masuk warung Minangkabau berbentuk gonjong, demikian pula warung dari Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan, dan daerah lain yang warganya ada di Bangka Belitung,” katanya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Madura, Aan Junaidi, mengusulkan agar kawasan tersebut memiliki lahan datar dan luas yang dapat digunakan untuk lomba Karapan Sapi.

“Kami sudah empat kali menggelar Karapan Sapi di Bangka Belitung dan tahun ini ingin menggelar kembali. Tapi kendalanya lahan belum tersedia. Padahal kami sudah mendapat dukungan dari empat kepala daerah di Madura,” ujarnya.

Menurut Aan, lomba tersebut membutuhkan lahan sekitar satu hektare demi keamanan peserta dan pengunjung.

Aswandi menambahkan, kawasan itu nantinya akan ditata terpadu.

“Misalnya ada satu lahan khusus untuk Karapan Sapi atau Pacu Kuda, di sekitarnya dibangun deretan rumah adat, panggung seni, serta area parkir. Untuk keseluruhan kawasan kita butuh minimal tiga hektare, konsepnya seperti miniatur Taman Mini Indonesia,” jelasnya.

Beragam atraksi budaya juga siap ditampilkan. Tulus Aji Nugroho menyampaikan bahwa Kelompok Kesenian Reyog Ponorogo yang dipimpinnya siap tampil kapan pun dibutuhkan, termasuk atraksi Kuda Lumping dan kesenian daerah lain dari paguyuban yang ada di Bangka Belitung.

Pada akhir pertemuan, Widya Kemala Sari mengapresiasi diskusi yang berlangsung konstruktif dan meminta seluruh staf mencatat setiap ide yang muncul.

“Ini sangat membangun dan kami akan membantu mewujudkan kawasan tersebut. Kita punya lahan di sekitar GOR Sahabuddin, bekas lokasi MXGP 2018. Mungkin lahan itu bisa dimanfaatkan, tentu akan kami komunikasikan dengan pimpinan daerah. Yang terpenting semangatnya sudah ada dan kita harus bisa mewujudkannya,” tegas Widya.